BATIK

Batik

Batik

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.[1]

Etimologi

Kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik“.[rujukan?]

Sejarah teknik batik

Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok

Detail ukiran kain yang dikenakan Prajnaparamita, arca yang berasal dari Jawa Timur abad ke-13. Ukiran pola lingkaran dipenuhi kembang dan sulur tanaman yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa.

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]

Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri di Pekan tahun 1895 bagi menghasilkan batik, kain pelangi, dan kain telepok.[6]

Budaya batik

Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik Cirebon bermotif mahluk laut

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton jawa.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik

Pembuatan batik cap

Menurut teknik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

Menurut asal pembuatan

Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

Motif Batik

  • Batik Tiga Negeri

  • Batik Jawa Hokokai, 1942-1945

  • Batik Buketan asal Pekalongan dengan desain pengaruh Eropa

  • Batik Buketan

  • Batik Lasem

BATIK JAWA TIMUR

Batik Jawa Timur

Bekisar & Teratai

Batik berasal dari kata Jawa NGEMBAT TITIK (Menghubungkan titik-titik) yang artinya menulis menjadi lukisan, sehingga disebut dengan Batik Tulis. Sedang Batik Cap/Printing adalah Produk Tekstil bermotif Batik.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces Of The Oral And Intangible Heritage Of Humanity).

BATIK, adalah bagian dari budaya bangsa indonesia sejak lama dan merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi. Wanita Indonesia khususnya jawa dimasa lalu, membuat batik merupakan ketrampilan yang menjadi mata pencarian sehingga membuat batik merupakan pekerjaan eksklusif.

Membatik pada awalnya merupakan tradisi keluarga yang turun menurun sehingga dengan melihat suatu motif, bisa diketahui keluarga mana asal batik tersebut. Beberapa motif batik dapat meninjukkan status seseorang, bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga tertentu.

Sebagai warisan budaya, batik memiliki berbagai motif. Perbedaan ini terjadi karena setiap motif batik memiliki makna tersendiri yang mereka dapat dari leluhur masing-masing seperti penganut Animisme, Dinamisme, Hindu, Budha maupun Islam. Batik Tradisional mampu mempertahankan corak dan lambang karena masih dipakai dalam upacara adat.

Ragam Corak Batik

Ragam corak dan warna batik juga dipengaruhi oleh bangsa asing. Masa lalu, batik memiliki corak dan warna terbatas dan hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun untuk batik pesisir yang mampu menyerap berbagai pengaruh luar seperti pengaruh dari pedagang asing. Warna Merah cerah dipopulerkan oleh bangsa Tionghoa, yang sekaligus mempopulerkan corak Phoenix.

Minat bangsa Eropa terhadap batik menghasilkan corak Bunga seperti bunga Tulip, Gedung, Kereta Kuda, warna biru kesukaan bangsa Eropa dan yang lainnya.

Di Jawa Timur, sejarah Batik sangat erat kaitannya dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan sesudahnya. Batik sudah dikenal pada abad XVII di kerajaan Majapahit.

Pada saat itu batik dikerjakan oleh kalangan kerajaan, hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena pengikut raja banyak yang tinggal di luar keraton, maka seni batik dibawa keluar keraton dan dikerjakan ditempat masing-masing.

Dengan keterbukaan tersebut, seni batik ditiru oleh masyarakat setempat yang akhirnya meluas menjadi pekerjaan kaum perempuan dalam rumah tangga untuk mengisi waktu senggang.

Batik yang dulu hanya dipakai oleh keluarga kerajaan, akhirnya menjadi pakaian rakyat. Bahan kain putih pada waktu itu adalah hasil tenunan sendiri, sedang bahan pewarna diambil dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia.

Tradisi tenun ini masih dipakai di Jawa Timur yakni daerah Tuban. Dalam buku “Batik Fabled Cloth Of Java” karangan Inger Mc Cabe Elliot, dikatakan bahwa pada pertengahan abad ke -19, batik Tuban mirip dengan batik Cirebon. Kemiripan batik ini ada pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna Merah dan Biru pada proses pencelupan.

Pada perkembangan jaman, batik Cirebon mengalami perubahan yang signifikan, sedang batik Tuban tetap mempertahankan cara pengolahan dan hingga sekarang masih eksis sebagai batik motif pesisir dan dikenal dengan Tenun Gedog Tuban.

Batik Jawa Timur mempunyai sedikit perbedaan dengan batik Jawa Tengah. Batik Jawa Tengah pedalaman Solo dan Jogja, menggunakan warna Sogan, Indigo, Hitam dan Putih serta moif dasar yang relatif terikat pada pakem tententu. Sedabatik Jawa Timur mempunyai motif bebas tanpa terikat pakem tertentu.

Sampai saat ini Jawa Timur mempunyai unit usaha batik tenun dan bordir sebanyak +- 5.926 unit usaha yang tersebar di daerah kabupaten/kota. Dan diperkirakan memiliki motif +- 2.500 motif batik khas daerah dari 38 daerah kabupaten/kota di Jawa Timur.. Jumlah tenaga kerja yang terserap oleh IKM Batik, Tenun dan Bordir tersebut sebanyak +- 23.000 tenaga kerja.

Daerah Jawa Timur yang tercatat memiliki sejarah penghasil batik yakni Sumenep (Pekandangan), Sampang, Bangkalan (Tanjung Bumi), Pamekasan, Gresik, Sidoarjo (Jetis dan Sekardangan), Porong (Kedung Cangkring), Mojokerto (Mojosari), Jomabang, Kediri, Trenggalek, Pacitan, Banyuwangi, Bondowoso (Maesan), Lumajang, Tulungagung, Magetan, Ponorogo.

BATIK KALIMANTAN

Batik Kalimantan dalam Sejarah dan Motifnya

Batik kalimantan- Sejarah awal muncul dan terciptanya batik kalimantan berdasarkan cerita hikayat adalah pada masa patih lambung mangkurat  yang melakukan tapa dan ketika tapa tersebut akan usai  karena dia bertapa menggunakan rakit maka sampailah ia di kota bagantung , tapi secara mendadak muncul buih  tepat dihadapannya dan bersamaan dengan munculnya buih tersebut muncul juga suara seorang wanita yang disebut oleh  warga sekitar sebagai putri junjung buih. Katanya dialah yang akan menjadi raja benua ini.
Akan tetapi kemunculan sang putri ke atas permukaan harus di barengi dengan beberap syarat yang dimintanya. Beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain : sebuah istana  batung, dan juga kain, kain tersebut bukan kain sembarangan akan tetapi menggunakan metode calap dan tenun. Pengerjaannya pun harus dilakukan oleh 40 putri  motif yang dibuatnya adalah motif wadi dan pada ringin.  Nah itulah awal munculnya  batik kalimantan dan motifnya.
Pada zaman dahulu kain kalimantan dipakai oleh kaum laki-laki sebagai selendang, sabuk dan ikat kepala juga dipakai oleh kaum hawa sebagai kemben dan  kerudung. Dalam upacara adatnya pun menggunakan kain ini seperti dalam penyembuhan orang yang sedang sakit .
motif batik Kalimantan tercipta dengan cara  teknik penjahitan dan ikatan dengan  komposisi pada warna serta efek yang timbulkanya,  juga dari jenis benang
Beberapa motif batik yang ada di kalimantan :
Kambang Tampuk Manggis
Daun Jaruju
Kangkung Kaombakan
Sisik Tanggiling
Kambang Tanjung
Sari Gading
Iris Pudak
Bayam Raja
Kulit Kayu
Naga Balimbur
Jajumputan
Turun Dayang
Kulit Kurikit
Ombak Sinapur Karang
Bintang Bahambur
07.44

0 komentar on Batik Kalimantan dalam Sejarah dan Motifnya :

Poskan Komentar

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

Populer

  • Batik jika dilihat dari segi daerah asal nya dapat dikelompokan sebagai berikut, yaitu sebuah motif batik dengan ciri khas daerah asalnya. …
  •   Salah satu komoditas batik di indonesia adalah kota batik solo , batik solo mempunyai motif yang beraneka ragam dan setiap motif solo…
  • Motif Batik Nusantara – Indonesia terkenal akan kekayaan budaya dan kulturnya, tersebar dari sabang sampai merauke. Salah satu kekayaan …
  • Pada dasarnya penggolongan motif batik  yang ada di indonesia di bagi menjadi dua macam yaitu motif geometris dan motif non geometris   b…
  • Motif Batik Tiga Negeri   Dari beberapa Motif Batik di indonesia salah satunya adalah motif batik Tiga Negeri yang merupakan perpadu…
  • Batik Jawa barat – jawa barat terkenal akan selain terkenal akan kultur budayanya juga terkenal  dengan dunia fashionya  dimana batik s…
  • Bandung Merupakan Kota industri pakaian yang paling dominan di indonesia dimana pusat belanja khususnya pakaian tersedia dimana- mana dan pr…
  • sobat batik yang budiman seperti yang kita tahu  membuat batik dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari tulis,lukis dan cap, na…
  • Batik kalimantan- Sejarah awal muncul dan terciptanya batik kalimantan berdasarkan cerita hikayat adalah pada masa patih lambung mangku…

PECINTA BATIK

MOTIF BATIK. Diberdayakan oleh Blogger.
© Copyright 2011 – Motif Batik Template Blogger Seo friendly Designed by BLog Bamz Publish on Template Blogger

SEJARAH BATIK INDONESIA

  • Sejarah Batik di Indonesia

       Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

        Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman MajapahitBatik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

  • Sejarah Batik Pekalongan

       Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

       Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah – daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

  • Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

       BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

       Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.

Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.

Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.

Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.

Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.

PENYEBARAN BATIK SOLO DAN JOGJA

Menjadi menyebar terutama di Pulau Jawa, sekitar 17th, 18th, 19. Abad. Untuk pertama kalinya, ia baru saja menjabat sebagai hobi untuk puri keluarga. Selanjutnya, ia digunakan sebagai komoditi perdagangan di masyarakat. Batik Solo yang terkenal dengan desain dan pola tradisional terutama untuk kedua cap dan handwritten proses. Untuk pewarna, bahan yang digunakan adalah masih tetap menggunakan produk dalam negeri seperti soga Jawa – ia telah dikenal sejak lama saat-pola yang digunakan adalah “Sidomukti dan Sidoluruh”.

Mengenai asal produksi batik di Yogyakarta, telah dikenal sejak Pertama Kerajaan Mataram, yang diperintah oleh Panembahan Senopati. Mantan telah dilaksanakan di desa Plered – hanya untuk puri keluarga yang kedua, ia menyebar ke pengadilan pelayan dan pasukan. Pada upacara resmi, anggota keluarga istana yang memakai pakaian dalam kombinasi antara batik dan lurik. Dengan demikian, orang-orang tertarik pada apa yang dikenakan dan mereka kemudian ditiru mereka. Ini sebabnya batik menjadi turun ke bumi.

Perang terjadi antara kedua kerajaan dan kolonial Belanda di masa lalu, menyebabkan puri keluarga berlindung dan tinggal di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, Timur Ponorogo, Tulungagung dll dan mereka diajarkan batik ke banyak orang. Akibatnya, batik dikenal di daerah ini, pada awal abad 18.

The Fight of Diponegoro melawan Belanda telah memaksa dia dan keluarganya untuk meninggalkan istana. Mereka kemudian menyebar ke Timur dan Barat. Di wilayah ini, mereka disajikan batik. Di wilayah Timur, batik Solo dan Yogyakarta telah menyempurnakan desain batik Mojokerto dan Tulungagung. Selain itu, juga tersebar di Gresik, Surabaya dan Madura. Sementara itu, di wilayah Barat, batik dikenal di Banyumas, Pekalongan, Tegal dan Cirebon.

BATIK PEKALONGAN DAN SEJARAHNYA

Sejarah Batik Pekalongan

Sejarah Batik di Pekalongan dimulai dari pasca peperangan dan perpecahan di lingkungan kerajaan Mataram yang waktu itu dipimpin oleh rajanya Panembahan Senopati. Peperangan melawan kolonial belanda maupun perpecahan di antara lingkungan kraton memang kerap kali terjadi, hingga pada suatu saat kondisi yang paling parah menyebabkan banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Pekalongan. Keluarga-keluarga kraton yang memang telah mempunyai tradisi batik dan mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke daerah pengunsian di Pekalongan.Di daerah Pekalongan tersebut akhirnya batik tumbuh dengan pesat seperti di Buaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Keluarga kraton yang mengungsi dan membawa pengikut-pengikutnya ke daerah baru itu, dan ditempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk mata pencaharian. Corak batik di daerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnya.

Sampai awal abad ke-XX proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris.

Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini.

Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, soga Jawa, dan sebagainya.

SEJARAH BATIK SEMARANG DAN JAWA TENGAH

Batik Semarang Jawa Tengah

sejarah batik semarang - jawa tengah

Sejarah Batik Semarang Jawa TengahHistory of Batik Semarang.

Semarang Tempo Dulu – photo courtesy : http://www.semarang.nl


SEJARAH BATIK INDONESIA
Batik merupakan warisan sejarah bangsa Indonesia, namun sejak kapan manusia mengenal seni mendekorasi kain atau biasa disebut membatik itu? Apakah batik benar-benar berasal dari bahasa Jawa? Tak satupun dari para ahli atau peneliti batik berani memastikan asal mula batik. Yang jelas Elliot seorang peneliti, pecinta dan kolektor batik dari Amerika Serikat berani mengatakan bahwa batik telah ada di pulau Jawa tiga abad sebelumnya, yaitu pada abad ke-16. Definisi batik secara umum yang telah disepakati pada saat konvensi batik Internaional di Yogyakarta pada tahun 1997 adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka tidak bisa dinamakan batik, dan dikatakan tekstil bermotif batik. Lalu, Bagaimana dengan Batik Semarang?

Semarang Tempo Dulu – http://www.semarang.nl

sejarah batik semarang - jawa tengah
JEJAK SEJARAH BATIK SEMARANG
Semarang merupakan daerah pelabuhan dan salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia. Semarang sering disinggahi bangsa dan budaya luar, sehingga banyak akulturasi budaya terjadi. Dalam bidang batik, banyak yang mengira bahwa Semarang merupakan sentra batik di Jawa Tengah. Namun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan Semarang memiliki tradisi batik, apalagi memiliki motif dan pakem yang jelas.
Mengapa Semarang sebagai wilayah perbatikan kurang banyak disebut ? hal ini sangat dimungkinkan karena di wilayah tersebut jumlah produsen batik relative kecil ketika meningkatnya pengusaha batik Indo-Eropa dan Cina peranakan. Hal itu begitu berbeda bila dibandingkan dengan wilayah pekalongan.

sejarah batik semarang - jawa tengah

Pada tanggal 24 Juli 2007, pemerintah kota Semarang melalui Disperindag me-launching batik Semarang melalui sebuah seminar yang membahas mengenai motif dan identitas batik. Dan disepakati bahwa bahwa batik Semarang adalah batik yang diproduksi oleh orang atau warga kota semarang dengan motif atau ragam hias yang berhubungan dengan ikon-ikon Semarang. Pengertian itu belum definitif karena tidak menutup kemungkinan masih berlanjutnya penelitian mengenai batik Semarang.

MOTIF BATIK SEMARANG

Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.
Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir, Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu.
Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan cirri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang.
Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.